4.12.14

Bina Citra Karya Wanita - Mas Jamang: Olah Buah Bakau Jadi Rempeyek Hingga Steak

Semarang - KeMANGI. Siapa bilang pohon bakau (mangrove) hanya berfungsi sebagai tumbuhan penahan ombak dan penangkal abrasi. Ternyata pohon yang banyak hidup di pesisir pantai ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal yang dapat menambah pundi-pundi pendapatan warga. Di samping ini adalah Anggota Kelompok Bina Citra Karya Wanita Semarang (warga binaan KeSEMaT - Mas Jamang), menunjukkan beberapa penganan berbahan dasar buah mangrove saat pameran di Bonbin Mangkang, beberapa waktu lalu (30/11).

Di Kota Semarang ada sekumpulan ibu rumah tangga yang memanfaatkan buah dari pohon bakau menjadi bahan dasar aneka penganan. Melalui kelompok bernama Bina Citra Karya Wanita ini, ibu-ibu warga RT 1/RW 1 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang ini mampu menghasilkan pundi-pundi uang dari hasil kreatif mereka.

“Kelompok ini berdiri sejak 2012 lalu. Awalnya diberikan pengarahan oleh anak-anak mahasiswa KeSEMaT Undip (Universitas Diponegoro) dalam pemanfaatan mangrove. Setelah mendapatkan ilmu itu, kami kemudian mengembangkan ide sendiri dan menciptakan berbagai jenis makanan dari buah mangrove yang banyak di daerah kami,” kata Ketua Kelompok Bina Citra Karya Wanita Semarang Mufida kepada KORAN SINDO kemarin.

Saat ini sudah banyak hasil kreasi penganan yang dihasilkan kelompok yang beranggotakan sembilan orang itu, seperti cendol, rempeyek, steak, kerupuk, kue bolu basah maupun kering, kue lumpur, dan berbagai makanan lain dari buah mangrove.

“Harganya bervariasi, mulai yang termurah yakni rempeyek Rp5.000 hingga yang paling mahal itu bolu, yakni seharga Rp40.000,” ucapnya.

Dalam satu bulan kelompok tersebut berhasil mengumpulkan omzet hingga Rp5 juta lebih. Uang itu digunakan untuk kesejahteraan anggotanya.

"Memang omzetnya belum seberapa besar mengingat ini produk baru di masyarakat. Tapi kami yakin produk ini akan dikenal oleh masyarakat dan mampu meningkatkan pendapatan warga sekitar,” kata Mufida.

Permasalahan pemasaran produk memang menjadi kendala paling utama dalam usaha tersebut. Sehingga untuk mencakup pangsa pasar lebih luas pihaknya belum mampu mewujudkan.

“Paling waktu ada event-event pameran atau ada kunjungan orang dari luar kami bisa memasarkan. Selebihnya dari mulut ke mulut. Kami harap Pemkot Semarang mau membantu dalam upaya pemasaran produk kami ini,” ujarnya.

Kehadiran Kelompok Bina Citra Karya Wanita Semarang di Kelurahan Mangunharjo itu telah mampu mengangkat kehidupan masyarakat sekitar. Ibu-ibu rumah tangga anggota kelompok yang tadinya hanya pengangguran memiliki kreativitas dan tentu mendapat penghasilan tambahan.

“Tentu sangat membantu meningkatkan penghasilan kami. Sebelum adanya kelompok ini, kami hanya ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan,” kata salah satu anggota kelompok, Farhatun. 

Selain itu, kelompok tersebut juga telah memberikan pengalaman serta ilmu yang bermanfaat, khususnya dalam pengolahan mangrove. Dulu banyak masyarakat yang tidak memandang mangrove dapat dijadikan salah satu sumber penghasilan warga.

“Dengan adanya kegiatan ini, kami jadi lebih giat menanam mangrove. Selain untuk memenuhi kebutuhan pengolahan makanan, juga bagus untuk penghijauan pesisir dan penangkal abrasi,” tandasnya. (Sumber: Andik Sismanto - KORAN SINDO).